INDAHNYA AJARAN BUDDHA
Jalan
Pencerahan yang Unik
Bukan
metafisik ataupun ritualistik. Bukan skeptik ataupun dogmatik. Bukan penyiksaan
diri ataupun pemanjaan diri. Bukan pesimisme ataupun optimisme. Bukan
eternalisme ataupun nihilisme. Bukan mutlak dunia ini ataupun dunia lain. Ajaran
Buddha adalah jalan Pencerahan yang unik.
Mengungguli Segala Sistem Lain.
Sebagai
ajaran moral, ajaran Buddha mengungguli segala sistem etika, namun moralitas
hanyalah awal, bukan sebagai akhir dari ajaran Buddha. Dalam satu pengertian,
ajaran Buddha bukanlah filosofi; dalam pengertian yang lain, ajaran Buddha
adalah filosofi dari segala filosofi. Dalam satu pengertian, ajaran Buddha
bukanlah agama; dalam pengertian yang lain, ajaran Buddha adalah agama dari
segala agama.
Melampaui Agama
Jika
definisi dari "agama" adalah kepercayaan mutlak dan pemujaan terhadap
suatu sosok ilahi, dengan kewajiban untuk menjalankan upacara dan ritual,
ajaran Buddha bukanlah suatu agama. Ajaran Buddha melampaui semua definisi umum
tentang agama karena ajaran Buddha mendorong kecerdasan kita untuk bertanya dan
meyakini adanya potensi tertinggi dari setiap individu. Upacara dan ritual
hanya sekadar perayaan yang membantu mengilhami kita, namun tidak bisa memberi
kita Kebijaksanaan dan kebahagiaan sejati.
Universal
Karena
perhatian utama Buddha adalah kebahagiaan sejati bagi semua makhluk, ajaran-Nya
dapat dipraktikkan dalam masyarakat atau pertapaan, oleh semua ras dan sistem
kepercayaan. Ajaran Buddha sama sekali tidak memihak dan benar-benar bersifat
universal.
Kebenaran Tidak Memerlukan Nama
Apakah
ajaran Buddha itu agama atau filsafat? Ajaran Buddha tetaplah sedemikian rupa
apa pun nama yang disematkan padanya. Nama tidaklah penting. Bahkan nama
"Buddhisme" yang kita berikan untuk ajaran Buddha bukanlah hal yang
penting. Kebenaran tidak memerlukan nama.
Pemurnian Pikiran
Ajaran Buddha
tidak hanya menganjurkan untuk menghentikan semua kejahatan dan melakukan semua
kebaikan, tetapi juga mengajarkan pemurnian pikiran-yang merupakan akar dari
segala kebaikan dan kejahatan, serta sebab dari penderitaan maupun kebahagiaan
sejati. Dewasa ini kita banyak mendengar tentang cara melatih kekuatan pikiran,
ajaran Buddha adalah sistem pelatihan pikiran yang paling lengkap dan efektif
yang ada di dunia ini.
Kebebasan Berpikir
Dari sisi
intelektual dan filsafat ajaran Buddha, tumbuhlah kebebasan berpikir dan
bertanya yang tidak ada bandingannya dengan agama atau filsafat besar dunia
lainnya. Walaupun Buddha mendorong kita untuk mempertimbangkan ajaran-Nya,
namun tidak ada kewajiban atau paksaan apa pun untuk percaya atau menerima
ajaran Buddha.
Tidak Ada Perintah
Buddha
begitu penuh toleransi, bahwasanya Ia tidak mengerahkan kekuatan untuk
memberikan perintah kepada para pengikut-Nya. Sebagai pengganti penggunaan
perintah, Ia berkata: "Sebaiknya kamu melakukan ini. Sebaiknya kamu tidak
melakukan ini." Ia tidak memerintah, tapi menasihati.
Kebebasan Bertanya
Ajaran Buddha
dipenuhi dengan semangat kebebasan bertanya dan toleransi menyeluruh. Ajaran Buddha
adalah ajaran tentang keterbukaan pikiran dan hati yang simpatik, yang
menerangi dan menghangatkan segenap semesta dengan sinar ganda Kebijaksanaan
dan Welas Asih, memancarkan sinar keramahan pada setiap makhluk dalam
perjuangan mengarungi samudera kelahiran dan kematian.
Tidak Ada Rahasia
Menurut Buddha,
kebenaran adalah sesuatu yang terbuka bebas untuk ditemukan oleh semua makhluk.
Jika kita mempelajari kehidupan dan ajaran Buddha, kita bisa melihat bahwa
segala sesuatu terbuka untuk setiap orang. Memang ada ajaran tingkat lanjut
tertentu yang memerlukan bimbingan khusus dari para guru yang berpengalaman,
namun tidak ada rahasia dalam ajaran Buddha.
Pendidikan Kebenaran
Buddha
adalah guru kebenaran terbesar. Ajaran Buddha adalah pendidikan yang sempurna
tentang kita dan semesta tempat kita tinggal. Ajaran Buddha adalah ajaran yang
melampaui pengetahuan duniawi, mengenai Kebijaksanaan tertinggi menuju
perwujudan kebahagiaan sejati. Menarik untuk dicatat bahwa salah
satu universitas pertama di dunia adalah Universitas Buddhis Nalanda di India,
yang berkembang pada abad ke-2 sampai ke-9. Universitas ini dibuka untuk
pelajar dari seluruh penjuru dunia dan merupakan sekolah dari berbagai pelajar
Buddhis terkemuka.
Kebenaran Akan Selalu Menang
Buddha
dengan terbuka mengundang pengikut-Nya dan penganut kepercayaan lain untuk
menguji ajaran-Nya dari setiap sudut sampai tidak ada ruang keragu-raguan lagi.
Buddha tahu bahwa jika seseorang benar-benar yakin bahwa ia mengetahui
kebenaran, seharusnya ia tidak takut untuk diuji, karena kebenaran akan selalu
menang. Jawaban Buddha terhadap berbagai pertanyaan telah memperkaya ajaran Buddha
menjadi bidang keagamaan yang luas.
Mengandalkan Diri Sendiri
Ketika Buddha
bermeditasi untuk mencapai Pencerahan, tidak ada dewa yang datang untuk
menyingkap rahasia kekuatan spiritual apa pun. Ia berkata, "Saya tidak
pernah memiliki guru atau makhluk apa pun yang mengajarkan cara mencapai Pencerahan.
Saya mencapai Kebijaksanaan tertinggi dengan usaha, kekuatan, pengetahuan, dan
kemurnian sendiri." Demikian pula, kita dapat mencapai tujuan tertinggi
ini melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam memperbaiki diri sendiri.
Berdasarkan Pengalaman dan Nalar
Ajaran Buddha
adalah satu-satunya ajaran yang dibabarkan bagi umat manusia melalui
pengalaman, pencapaian, Kebijaksanaan, dan Pencerahan dari pendirinya. Ajaran
ini berakar dari pengalaman, bukan kepercayaan yang membuta. Masalah manusia
harus dipahami melalui pengalaman manusia dan diatasi dengan pengembangan
nilai-nilai manusia yang luhur. Manusia harus menemukan pemecahan melalui
pemurnian dan pengembangan pikiran manusia, bukan melalui pihak-pihak luar.
Jadilah Pelita Bagi Dirimu Sendiri
Buddha tidak
pernah memperkenalkan diri-Nya sebagai juru selamat gaib. Ia tidak mengajarkan
adanya juru selamat semacam itu. Tak seorang pun yang dapat menyelamatkan kita
selain diri kita sendiri. Para Buddha dengan jelas menunjukkan jalannya, namun
kita sendirilah yang harus menjalaninya. Ia berkata, "Jadilah pelita bagi
dirimu sendiri; andalkanlah dirimu sendiri; jangan mengandalkan pertolongan
lain dari luar. Genggamlah erat kebenaran bagaikan sebuah pelita!"
Teladan Sempurna
Buddha
adalah perwujudan segala kebajikan yang diajarkan-Nya. Ia mewujudkan seluruh
ucapan-Nya dalam tindakan. Tanpa kenal lelah Ia membabarkan kebenaran dan
menjadi teladan yang sempurna. Tak pernah Ia menampakkan kelemahan atau nafsu
dasar manusia. Kualitas Moralitas, Kebijaksanaan, dan Welas Asih-Nya adalah
yang paling sempurna sepanjang sejarah pengetahuan dunia.
Kita Juga Bisa Menjadi Sempurna
Buddha
mewakili puncak tertinggi dari pengembangan spiritual yang mungkin dicapai. Ia
mengajarkan bahwa semua orang bisa mencapai kesempurnaan sejati. Tidak ada
pendiri agama mana pun yang pernah berkata bahwa para pengikutnya juga
mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pengalaman yang sama akan
kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan seperti dirinya. Tetapi Buddha
mengajarkan bahwa setiap orang bisa mencapai kebahagiaan Pencerahan tertinggi
yang serupa jika telah mempraktikkan apa yang Ia jalani.
Umat Buddha Bukanlah Budak
Umat Buddha
bukanlah budak atau hamba sebuah buku atau siapa pun. Ia juga tidak
mengorbankan kebebasan berpikirnya dengan menjadi seorang pengikut Buddha. Ia
dapat melatih kehendak bebasnya sendiri dan mengembangkan pengetahuannya bahkan
sampai tahap pencapaian ke-Buddha-an oleh dirinya sendiri karena pada dasarnya
semua orang berpotensi menjadi Buddha.
Tidak Ada Ketakutan
Buddha
adalah tokoh sejarah utama yang mempromosikan bangkitnya keyakinan rasional
melawan takhayul keagamaan. Ia membebaskan manusia dari cengkeraman para imam,
dan juga yang pertama kali menunjukkan jalan untuk bebas dari kemunafikan dan
penindasan keagamaan. Ajaran Buddha adalah ajaran yang menggunakan nalar dan
tidak memakai unsur ketakutan untuk mendesak orang lain dalam segala cara
supaya percaya. Ajaran Buddha mengajarkan kita untuk menjadi baik bukan karena
takut akan ancaman api neraka atau karena imbalan kerajaan surga.
Tidak Ada Kepercayaan Membuta
Buddha tidak
menjanjikan kebahagiaan surgawi, imbalan, atau keselamatan bagi orang yang
percaya kepada-Nya. Bagi-Nya, agama bukanlah suatu tawar-menawar tapi suatu
jalan hidup mulia untuk mencapai Pencerahan dan keselamatan untuk diri sendiri
dan orang lain. Buddha tidak menginginkan pengikut-Nya untuk percaya kepada-Nya
secara membuta. Ia menginginkan kita untuk berpikir dan paham oleh diri kita
sendiri. Oleh karenanya ajaran Buddha disebut agama analisis.
Jangan Percaya Begitu Saja
Jangan
percaya begitu saja akan apa yang engkau dengar; Jangan percaya begitu saja
akan tradisi, desas-desus, atau banyaknya omongan; Jangan percaya begitu saja
hanya karena hal itu tertulis di dalam kitab agamamu; Jangan percaya begitu
saja pada kewenangan guru-gurumu; Namun melalui pengamatan dan analisis, jika
engkau temukan bahwa suatu hal sesuai dengan nalar dan mendatangkan kebaikan
dan manfaat bagi diri sendiri dan semua, maka terimalah dan hiduplah sesuai
dengan hal tersebut.
Ilmiah
Umat Buddha
tidak pernah merasa perlu untuk memberikan tafsiran baru terhadap ajaran Buddha.
Penemuan ilmiah belakangan ini tidak pernah bertentangan dengan ajaran Buddha
karena metode dan ajaran Buddha bersifat ilmiah. Asas-asas Buddhis dapat
dipertahankan dalam keadaan apa pun tanpa mengubah gagasan-gagasan dasarnya.
Ajaran Buddha dihargai oleh para cendekiawan, ilmuwan, pemikir hebat, ahli
filsafat, kaum rasionalis, bahkan pemikir bebas, sepanjang masa.
Matang Secara Intelektual dan Spiritual
Buddha berkata,
"Dharma yang Kuajarkan hanya dapat dipahami oleh orang yang mampu
berpikir." Hanya mereka yang memiliki kecerdasan untuk menggunakan pikiran
dengan jelas dan yang matang secara spiritual, tahu bagaimana menghargai Dharma
ini sebagai Hukum Universal.
Agama Masa Depan
Albert
Einstein, ilmuwan paling terkemuka pada abad ke-20: "Agama masa depan adalah agama kosmik. Melampaui Tuhan sebagai
pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun
spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul
dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan
yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini... Jika ada agama yang
akan memenuhi kebutuhan ilmiah modern, itu adalah ajaran Buddha."
Filsafat Tertinggi
Bertrand
Russell, pemenang Hadiah Nobel dan filsuf paling terkemuka pada abad ke-20: "Di antara agama-agama besar dalam
sejarah, saya lebih menyukai ajaran Buddha... Ajaran Buddha menganut metode
ilmiah dan menjalankannya sampai suatu kepastian yang dapat disebut
rasionalistik. Ajaran Buddha membahas sampai di luar jangkauan ilmu pengetahuan
karena keterbatasan peralatan mutakhir. Ajaran Buddha adalah ajaran mengenai
penaklukan pikiran."
Psikologi Tertinggi
Dr. C.G.
Jung, pelopor psikologi modern menyatakan penghargaannya: "Sebagai seorang pelajar studi banding agama, saya yakin bahwa
ajaran Buddha adalah yang paling sempurna yang pernah dikenal dunia. Filsafat
teori evolusi dan hukum karma jauh melebihi kepercayaan lainnya... Tugas saya
adalah menangani penderitaan batin, dan inilah yang mendorong saya menjadi
akrab dengan pandangan dan metode Buddha, yang bertema pokok mengenai rantai
penderitaan, ketuaan, kesakitan, dan kematian."
Welas Asih Universal
Karena Welas
Asih Buddha bersifat universal, Ia memandang semua makhluk besar dan kecil,
dari serangga sampai hewan besar, tampak maupun tak tampak, adalah sederajat.
Masing-masing mempunyai hak yang sama untuk berbahagia seperti halnya manusia.
Anti-kekerasan
Tidak ada
yang dinamakan "perang suci" dalam ajaran Buddha. Buddha mengajarkan,
"Yang menang menuai kebencian dan yang kalah hidup sengsara. Barang siapa
yang tidak mencari menang dan kalah akan berbahagia dan damai." Buddha
tidak hanya mengajarkan anti-kekerasan dan perdamaian, Ia mungkin satu-satunya
guru yang pergi ke medan pertempuran untuk mencegah pecahnya perang.
Tidak Ada Pengorbanan
Buddha tidak
menyetujui pengorbanan hewan karena Ia memandangnya sebagai hal yang kejam dan
tidak adil bagi siapa pun untuk merusak kehidupan makhluk lain demi keuntungan
diri sendiri.
Penyetaraan Derajat
Buddha
mengecam sistem kasta. Menurut-Nya, satu-satunya penggolongan umat manusia
adalah berdasarkan kualitas perilaku moralnya. Buddha berkata, "Pergilah
ke seluruh negeri dan babarkan ajaran ini. Katakan kepada mereka bahwa yang
miskin dan yang hina, yang kaya dan yang mulia, semua adalah satu, dan bahwa
semua kasta dipersatukan di dalam ajaran ini seperti sungai bermuara di lautan".
Persamaan Hak Pria dan Wanita
Buddha, yang
memandang bahwa kedua jenis kelamin memiliki hak yang seimbang, adalah guru
agama pertama yang memberikan kebebasan penuh bagi wanita untuk turut serta
dalam kehidupan beragama. Sikap-Nya yang memperbolehkan wanita untuk memasuki
Sangha (menjadi biarawati) merupakan hal yang sangat radikal pada zaman itu.
Sistem Parlementer Pertama
Buddha
adalah pemimpin pertama yang mendorong semangat musyawarah dan proses
demokrasi. Dalam komunitas Sangha, setiap anggota memiliki hak individu untuk
memutuskan hal-hal yang umum. Ketika permasalahan serius muncul, pokok
persoalan diajukan dan dibahas dengan cara yang serupa dengan sistem
parlementer demokrasi saat ini.
Tanpa Penyalahgunaan Politik
Buddha
berasal dari kasta kesatria dan bergaul dengan para raja, pangeran, dan
menteri. Tapi Ia tidak pernah menggunakan pengaruh kekuasaan politik untuk
mengenalkan ajaran-Nya. Ia juga tidak memperbolehkan ajaran-Nya disalahgunakan
untuk mendapatkan kekuasaan politik. Ia mendorong para raja untuk menjadi teguh
dari segi moral, mengajarkan bahwa negara tidak semestinya diperintah dengan
ketamakan tapi dengan Welas Asih dan tenggang rasa bagi warganya.
Peduli Akan Kesejahteraan Ekonomi
Buddha juga
peduli terhadap kesejahteraan material para umat awam karena kemapanan ekonomi
sampai tingkat tertentu bisa menunjang pengembangan spiritual para umat. Ia
tidak menghalangi mereka untuk mencari kebahagiaan duniawi, namun Ia menekankan
bahwa dalam pencarian tujuan duniawi, para umat sebaiknya berhati-hati agar
tidak melanggar aturan dasar moralitas.
Tidak Ada Penghukuman Abadi
Tidak ada
konsep dosa yang tak terampuni dalam ajaran Buddha; tidak ada penghukuman abadi
karena neraka pun tidaklah kekal. Buddha berkata bahwa semua perbuatan adalah
baik atau buruk disebabkan ada atau tidaknya Kebijaksanaan. Selalu ada harapan
sepanjang seseorang menyadari kesalahannya dan berubah untuk menjadi lebih
baik.
Agama yang Layak
Buddha
mengajarkan bahwa jika agama apa pun mengandung Empat Kebenaran Mulia dan Jalan
Mulia Beruas Delapan, agama itu bisa dianggap sebagai agama yang layak. Hal ini
karena agama yang benar-benar bermanfaat harus menuju pada pengakhiran total
penderitaan (seperti dalam Empat Kebenaran Mulia), menunjukkan dengan jelas
jalan yang rasional menuju kebahagiaan sejati (seperti dalam Jalan Mulia Beruas
Delapan).
Ajaran yang Ceria
Sebagian
orang berpikir bahwa ajaran Buddha adalah suatu agama yang suram dan murung.
Tidaklah demikian, ajaran Buddha akan membuat para penganutnya menjadi cerah
dan ceria. Apabila kita membaca kisah-kisah kelahiran Bodhisatta (bakal Buddha),
kita belajar bagaimana Ia mengembangkan kesabaran dan pengendalian diri. Hal
ini akan membantu kita untuk tetap ceria meskipun sedang berada di tengah
kesulitan besar dan merasa bergembira terhadap kesejahteraan orang lain.
Tidak Ada Fanatisme
Ajaran Buddha
dapat dikatakan bebas dari segala bentuk fanatisme. Ajaran Buddha bertujuan
untuk menghasilkan perubahan internal dengan jalan penaklukan diri sendiri;
bagaimana mungkin ajaran Buddha dikatakan mencari kekuasaan, keuntungan, atau
bahkan bujukan untuk pindah agama? Buddha hanya menunjukkan jalan keselamatan,
selanjutnya terserah setiap orang untuk memutuskan akan mengikutinya atau tidak.
Tak Setetes Darah Pun
Semangat
toleransi dan pengertian adalah salah satu prinsip yang paling mengagumkan dari
budaya Buddhis. Tak setetes darah pun dicucurkan demi penyebarluasan ajaran Buddha
sepanjang sejarah 2.500 tahun.
Misionari Pertama
Ajaran Buddha
adalah agama misionari pertama dalam sejarah dengan pesan universal bagi
keselamatan segenap umat manusia.
Tidak Mengubah Agama Orang
Umat Buddha
tidak pernah menarik masuk dengan cara memaksakan pendapat dan keyakinan
terhadap orang yang tidak berminat; juga tidak menggunakan berbagai rayuan,
tipuan, atau bujukan untuk memenangkan pandangannya. Misionari Buddhis tidak
pernah bersaing untuk mengubah agama orang.
Toleransi Luar Biasa
Teladan luar
biasa dari toleransi umat Buddha ditunjukkan oleh Kaisar Asoka. Salah satu
dekritnya terukir di batu karang, yang masih ada sampai hari ini di India :
"Seseorang seharusnya tidak hanya
menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain, tapi juga harus
menghormati agama lain karena satu dan lain hal. Dengan bertindak demikian,
seseorang membantu agamanya sendiri untuk tumbuh sekaligus memberikan pelayanan
bagi agama lain. Dengan bertindak sebaliknya, seseorang menggali kubur bagi
agamanya sendiri sekaligus merugikan agama lain."
Semangat Misionari
Perang suci
dan diskriminasi agama tidak pernah mencemari sejarah umat Buddha. Misionari
Buddhis tidak berhasrat untuk mengubah orang yang sudah menganut agama yang
layak. Umat Buddha berbahagia melihat kemajuan agama lain sejauh agama tersebut
membantu orang untuk menjalani kehidupan religius dan menikmati kedamaian,
keharmonisan, dan pengertian yang benar. Namun demikian, Buddha juga
menganjurkan kita untuk membagi kebenaran dengan orang yang berminat dengannya.
Demi Kebahagiaan Semua
Sabda Buddha
kepada murid-murid-Nya untuk menyebarluaskan Dharma: "Pergilah kalian, O Bhikkhu, demi kesejahteraan semua, demi
kebahagiaan semua, atas dasar Welas Asih kepada dunia, demi manfaat,
kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah pergi berdua
dalam satu jalan. Babarkanlah Dharma ini, yang indah pada awalnya, indah pada tengahnya,
dan indah pada akhirnya, dalam semangat maupun dalam ungkapan. Jalanilah
kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya."
Tetap Hormat
Suatu
ketika, seorang pengikut agama lain menjadi yakin bahwa pandangan Buddha adalah
benar dan pandangan gurunya adalah keliru, dia memohon kepada Buddha untuk
menerimanya sebagai murid-Nya. Namun Buddha memintanya untuk
mempertimbangkannya kembali dan tidak tergesa-gesa. Ketika orang tersebut
mengungkapkan hasratnya kembali, Buddha memenuhi permintaannya dengan syarat
dia meneruskan dukungan dan rasa hormatnya kepada gurunya yang dulu.
Mukjizat Terbesar
Bagi Buddha,
mukjizat hanyalah perwujudan fenomena yang tidak dipahami oleh orang pada
umumnya. Mukjizat tidak dipandang sebagai ungkapan Pencerahan atau Kebijaksanaan.
Walaupun Buddha sepenuhnya menguasai kemampuan batin, Ia tidak pernah
menggunakan kekuatan-Nya untuk mendapatkan pengikut melalui kepercayaan membuta
dan ketergantungan akan mukjizat. Ia mengajarkan bahwa mukjizat terbesar adalah
perubahan orang yang gelap batin menjadi orang yang bijaksana.
Kebahagiaan Dalam Kehidupan Ini Juga
Ajaran Buddha
bukanlah semata-mata agama kehidupan lain atau mendatang. Sekalipun menjalankan
ajaran Buddha dalam kehidupan saat ini mendatangkan hasil positif yang berkelanjutan
sampai kehidupan mendatang, kebanyakan buah dari hal-hal yang kita praktikkan
bisa dilihat dalam kehidupan ini juga.
Jalan Tengah
Ajaran Buddha
juga dikenal sebagai "Jalan Tengah" karena menghindari dua ekstrem.
Ekstrem pertama adalah pencarian kebahagiaan melalui kenikmatan indrawi, yang
bersifat rendah, umum, tidak bermanfaat, dan cara orang biasa; ekstrem yang
lain adalah pencarian kebahagiaan melalui penyiksaan diri dalam berbagai bentuk
pertapaan, yang menyakitkan, sia-sia, dan tidak bermanfaat.
Welas Asih dan Kebijaksanaan
Agama sering
memandang rasio dan Kebijaksanaan laksana musuh dari emosi seperti kasih atau
iman. Sebaliknya ilmu pengetahuan sering memandang emosi laksana musuh dari
rasio dan objektivitas. Dan, tentu saja, dengan kemajuan ilmu pengetahuan,
agama mengalami kemerosotan. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa untuk menjadi
pribadi yang betul-betul seimbang dan lengkap, kita harus mengembangkan baik
Kebijaksanaan maupun Welas Asih. Dan karena tidak melulu dogmatis, namun
didasarkan pengalaman, ajaran Buddha tidak pernah gentar menghadapi
perkembangan ilmu pengetahuan.
Ehipassiko: Datang dan Lihatlah Sendiri
Kebebasan
berpikir itu sungguh penting. Ajaran Buddha dijalankan secara ehipassiko, yang
artinya mengundang Anda untuk datang dan melihat sendiri, bukan datang dan
percaya begitu saja. Buddha menasihatkan kita untuk tidak mempercayai apa pun
secara membuta.*Aji-Ngr*
